Titip Mamaku Ya Allah… Sayangilah Mamaku…
Post by: admin on April 30th, 2009 | File Under Life n' Share, Love“Lu, bangun… udah adzan subuh. Sholat dulu, mandi, trus maem.
Sarapanmu udah Mama siapin di meja… “
Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.
” Mama sayang… ga usah repot-repot Ma, aku udah dewasa ”
pintaku pada Mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.
Sering ketika Mama mengajakku jalan-jalan dan makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya.
Atau saat Mama membelikanku baju-baju lucu…. sering aku menolak, dengan alasan aku sudah gede lah, nggak pantes pakai baju model gitu lah, dan lain-lain.
Bahkan saat Mama setia menemaniku lembur nggarap tugas sampai malam… Mama sering membuatkanku cemilan atau sekedar kopi supaya aku tidak mengantuk. Mama belum mau tidur kalau aku masih terjaga.
Ah Mama… Maafkan aku kalau saat itu aku marah… Aku takut Mama sakit…
Aku hanya tidak ingin Mama terlalu memanjakanku, aku ingin gantian memanjakan Mama, meladeni Mama.
Ingin kubalas jasa Mama selama ini dengan hasil keringatku. Aku ingin Mama bahagia…
Tapi… sepertinya aku salah. Raut sedih itu tak bisa Mama sembunyikan.
Kenapa Mama mudah sekali sedih ?
Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Mama,
karena dari sebuah artikel yang kubaca, orang yang lanjut usia atau sepuh, bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak..
tapi entahlah.. niatku ingin membahagiakan Mama malah membuat Mama sedih.
Seperti biasa, Mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
” Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Mama. Apa yang membuat Mama sedih ? ”
Kutatap sudut-sudut mata Mama, ada genangan air mata di sana .
Terbata-bata Mama berkata,
” Tiba-tiba Mama merasa kamu dan saudara-saudaramu tidak lagi membutuhkan Mama.
Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri.
Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian,
Mama tidak bisa lagi jajanin kalian,
memperhatikan kalian…
Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri ”
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Mama.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri, untuk melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku instropeksi…
Apa yang telah kupersembahkan untuk Mama dalam usiaku sekarang ?
Adakah Mama bahagia dan bangga pada putera putrinya ?
Ketika itu kutanya pada Mama, Mama menjawab :
“Banyak sekali sayang, kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Mama.
Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan .
Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Mama.
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Mama.
Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Mama.
Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan ,
di situlah kebahagiaan orang tua, kebahagiaan Mama.”
Betapa tulusnya kasih sayang seorang Ibu.
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,
“Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Mama.
Masih banyak alasan ketika Mama menginginkan sesuatu. ”
Betapa sabarnya Mamaku melalui liku-liku kehidupan.
Dulu sebagai seorang istri pejabat seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Mamaku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah, atau menyerahkan tugas kepada pembantu. Mama begitu sibuk mendampingi Papa.
Tapi tidak! Mamaku seorang yang idealis.
Menata keluarga, melayani suami, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun.
Pukul 3 dinihari Mama bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh, Mama ke dapur menyiapkan sarapan… sementara aku dan saudara-saudaraku sering tertidur lagi…
Ah, maafin kami Mama … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Mama lelah..
Sanggupkah aku ya Allah ?
“Lullu sayang.. bangun, udah azan subuh .. Cepetan sholat, mandi trus maem,
sarapanmu udah Mama siapin dimeja.. ”
Kali ini aku lompat segera..
kubuka pintu kamar dan kurangkul Mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput,
kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,
“Terimakasih Ma, aku beruntung sekali memiliki Ibu seperti Mama, yang baik hati dan sangat menyayangi aku.
Ijinkan aku membahagiakan Mama..”
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..
Cintaku ini milikmu, Mama.. Aku masih sangat membutuhkanmu..
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
Sahabat…
tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu.. “,
namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita.. Papa dan Mama walau mereka tak pernah meminta… Kakak dan Adik kita… Suami ataupun Istri… Sahabat…
Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka merasa sangat berarti dan bahagia.
Wallaahua’lam
“Ya Allah, aku titip Mamaku, cintailah Mamaku,
beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Mama..
Membahagiakan kedua orangtuaku…
Ijinkanlah aku membalas kasih sayang yang telah mereka limpahkan selama ini padaku.
Ampunilah segala dosa-dosa mereka
dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku selagi aku kecil “ .
Amiin.
Semoga suatu saat nanti aku juga bisa menjadi Ibu seperti Mama. Amiin.
Terinspirasi dari someone milis... Biem, Thank you.You make me realize that...I do love my Mom and Dad so much. More than anything... more than everything in this world.Comments (One response so far)

















terdapat perbedaan, yakni lipatan pada bagian dada. Panjang kebaya juga menutup panggul. Ciri khas lainnya adalah lipatan kerah yang membentuk garis vertikal, sehingga membuat pemakainya terkesan lebih tinggi dan ramping. Kesan klasik- eksotis akan terasa lebih kuat, jika dikenakan dengan long torso atau korset terpisah. Kenakan dengan stolla dan Anda pun akan terlihat lebih chic dan dramatic. 
dijahit dengan menggunakan vooring sebagai lapisan agar tidak menerawang.
Khusus untuk kebaya pengantin, Ferry Sunarto memodifikasi dari gaya Edwardrian dengan mengambil dari beberapa bagian dari gaya ini, semisal bentuk bagian lengan yang puffy ataupun rok ball gown.
